Misteri Lastri: Tragedi Kembang Desa Kampung Bandeng | Sebuah kisah tragis dari sudut Kampung Bandeng kembali mencuat, membawa ingatan kolektif masyarakat pada peristiwa kelam yang terjadi tiga dekade silam. Kisah ini bukan sekadar buah bibir, melainkan sebuah urban legend yang menyelimuti kehidupan seorang wanita tua bernama Atmi (diperankan oleh Audy Bella). Akhir-akhir ini, Atmi didera ketakutan luar biasa akibat rentetan teror gaib tak kasat mata. Sosok tak berwujud yang menghantuinya diyakini merupakan manifestasi dari dosa masa lalu yang menuntut balas.
Masyarakat di sekitar makam keramat Kampung Bandeng sudah tidak asing lagi dengan fenomena ini. Mereka mengenal sosok gaib tersebut sebagai Lastri (diperankan oleh Hana Saraswati). Menariknya, kesaksian warga mengenai arwah Lastri terbelah menjadi dua sisi yang bertolak belakang. Bagi para pelintas malam atau orang asing yang menginjakkan kaki dengan niat buruk, Lastri akan menjelma menjadi sosok yang mengerikan dan penuh intimidasi. Sebaliknya, bagi mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan, arwah ini justru kerap memperlihatkan sisi humanisnya.
Salah satu cerita yang paling santer terdengar adalah kisah seorang pedagang sayur keliling. Suatu ketika, ia menerima selembar uang misterius dari seorang wanita yang diyakini sebagai perwujudan Lastri. Keajaiban terjadi ketika uang tersebut tidak pernah habis meskipun telah digunakan untuk berbelanja berkali-kali. Fenomena karomah atau pesugihan putih ini membuat sebagian warga memandang Lastri bukan sebagai hantu pembawa sial, melainkan sebagai pelindung kaum papa.
Sisi Gelap Masa Lalu di Tahun 1995

Namun, kebaikan Lastri sama sekali tidak berlaku bagi orang-orang yang menjadi dalang di balik kehancuran hidupnya pada tahun 1995. Kilas balik ke 30 tahun yang lalu, Lastri adalah seorang gadis belia berusia 18 tahun yang menyandang predikat kembang desa karena parasnya yang menawan. Kehidupannya berubah drastis setelah ia dipersunting oleh Turenggo (Gary Iskak), seorang juragan tambang pasir yang kaya raya dan disegani.
Pernikahan beda usia ini rupanya menyulut api cemburu dan dengki di hati banyak orang. Salah satu penentang keras pernikahan tersebut adalah Darman (Yama Carlos), juragan tambang saingan Renggo yang merasa tersaingi baik dalam urusan bisnis maupun asmara. Di sisi lain, ada Atmi muda (saat itu berusia 20 tahun) yang memendam cinta mati kepada Renggo dan merasa posisinya direbut oleh Lastri.
Aliansi Jahat dan Hasutan Berdarah
Didorong oleh rasa sakit hati dan ambisi, Darman dan Atmi bersekutu untuk meruntuhkan kebahagiaan sang kembang desa. Mereka mulai menyebarkan desas-desus keji dan fitnah tanpa dasar ke seluruh penjuru Kampung Bandeng. Lingkungan sosial yang semula hangat perlahan berubah menjadi neraka jahanam bagi Lastri. Warga kampung yang termakan provokasi mulai mengucilkan dan memandang sinis dirinya.
Strategi paling fatal yang diluncurkan oleh Darman dan Atmi adalah meracuni pikiran Renggo. Hasutan demi hasutan yang dikemas rapi akhirnya berhasil menggoyahkan kepercayaan sang suami. Terjebak dalam pusaran fitnah, tekanan sosial yang masif, serta hilangnya kepercayaan dari lelaki yang ia cintai, Lastri berada di titik nadir. Merasa tidak ada lagi jalan keluar untuk membersihkan nama baiknya, ia mengambil keputusan tragis dengan mengakhiri hidupnya sendiri.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, roda nasib tampaknya berputar. Atmi yang kini telah renta harus membayar mahal setiap jengkal konspirasi masa lalunya. Teror tanpa wujud yang dialaminya menjadi bukti bahwa beberapa kesalahan di masa lalu tidak akan pernah terkubur bersama tanah makam, melainkan tetap hidup dan menanti momentum yang tepat untuk menuntut keadilan.